Satu minggu kelam yang dihadapi oleh seluruh siswa-siswi di Indonesia, termasuk saya, karena selama satu minggu kita dihadapkan dengan yang namanya UAS atau Ujian Akhir Semester, dua hari sebelum UAS, kami di kasih kartu peserta dan juga jadwal UAS, setelah menerima itu, saya melihat ekspresi teman-teman saya, ada yang langsung galau, sedih, senang, bahkan jadi gila, untung gak kesurupan. Jangan tanya kenapa, saya juga gak tau.
Sepulang sekolah kami langsung mencari ruangan tempat kami duduk, setelah melihat posisi duduk, saya bersyukur karena saya duduk di posisi belakang, tapi teman saya ada yang langsung membaca istigfar "Bro kenapa?" tanya saya "Sialan gue duduk di paling depan, depan guru broo :(" jawabnya alay termehek-mehek. Terus saya melihat siapa yang sebangku dengan saya, kelas XI, "Yess bisa nanya nih" saat melanjutkan membaca, ternyata kelas IPS, "shiiit!!" :(.
UAS pun tiba, kami segera masuk ruangan masing-masing, "Deg deg deg" suara jantung saya saat pengawas mulai melangkahkan kakinya masuk ke kelas, saya melihat wajah teman-teman saya sangat pucat, penuh dengan ketakutan, tapi kelas XI pada bersorak gembira "Yeeees!" gitu kurang lebih. "Ada apa gerangan?" Saya heran, ternyata pengawas itu baik, "Semangat!!" kata teman saya yang duduk di belakang saya. UAS pun dimulai, belum ada 5 menit, ruangan kelas udah ribut :
"Bro nomor 1 apa bro?"
"Hey nomer 20 apa?"
ada juga yang kayak gini :
"Cantik nomer 9 apa?"
"Kamu kan baik, pinter, soleh, rajin menabung, nomor 18 sampai 30 apa?"
Baru aja mulai, tapi udah ribut kayak gini, gimana besok-besok? tapi pengawas itu tetap diam saja "Apakah pengawas itu mati? atau budeg?" tapi saya hiraukan saja pengawas itu dan melanjutkan pekerjaan saya, mencontek.
Sepulang sekolah terjadi hal yang biasa terjadi, yaitu saling bertanya tentang jawaban nomor sekian, saat temen-temen ribut membicarakan jawaban, ada temen saya yang diam saja dengan tatapan bingung, seorang temen saya mendekati dia
A : "Heh, manusia, kamu kenapa?"
B : (diam saja)
A : "Kadal budeg jawab!!"
B : (Masih diem)
C : "Bro lu tau ini gejala apa?"
A : "Engga bro, emang apa?"
C : "Sama"
A : -_-
Ternyata, temen saya jawabannya beda dari yang lain (ohhh), saat orang membicarakan nomor 20 jawabannya A, dia jawab E, saat ngomongin jawaban nomor 14 yang isinya D, dia jawab C, timbulah rasa galau yang tak tertahankan.
Hari demi hari saya dan teman-teman lewati, saya bertemu berbagai macam pengawas, ada yang suka keliling kelas, ada yang suka main hp, baca koran, ada juga yang suka ngajak ngobrol muridnya, bahkan ada yang suka keluar, masuk, keluar lagi, masuk lagi. (Pikirannya jaga).
UAS pun berakhir, semua murid merasa sangat senang dan gembira, tanpa disadari didepan masih ada yang menunggu mereka, ya benar itu adalah remedial, saya sama temen-temen sih kalem aja. Tapi, semua berubah setelah temen saya bilang "PJOK semuanya di remed" teman-teman saya kaget, saya mencoba menenangkan sambil bilang "Ga apa-apa yang penting kita tambah kompak", "Alhamdulillah" tambah seorang teman saya.
Jumat, 12 Desember 2014 jam 08 Lebih 13 menit 58 detik, saya lagi duduk di tribun bersama teman-teman saya, ya karena enggak ada pelajaran yang diremed. Tiba-tiba temannya teman saya datang,
"Bro lu di remed matematika" kata Aef kepada Ibas.
"Serius bro? :( " tanya Ibas sambil memegang kaki Aef, mungkin agar lebih dramatis.
"Serius, ni buktinya" Kata Aef sambil memberikan sesobek kertas.
"Ahh.. ga percaya, ini pasti tulisan si maul" Ibas semakin tidak percaya.
"Lihat dulu tanda tangannya" suruh si Aef. Ibas percaya, bahwa tanda tangan ini adalah tanda tangan guru.
Teman saya terlihat pasrah, kami semua tidak ada yang sedih, kami semua tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan, sampai saya merencanakan pesta 7 hari 7 malam, tapi niat itu saya urungkan karena itu akan menghabiskan banyak uang. Ibas ini orangnya sering membully orang lain dalam artian melakukan sebuah lawakan dan terkadang selalu berlebihan hingga menyayat hati orang tersebut. Mungkin ini adalah pembalasan tuhan kepada ibas karena terlalu berlebihan melakukan lawakan. #Sok religius.
Besoknya saya tidak menemukan Ibas,saya terus mencari-cari dengan niat agar pulang bisa dianterin, saya terus mencari selama 1 jam, atau mungkin lebih, akhirnya saya menanyakan kepada maul, "Maul si Ibas mana?" tanya saya "Engga tahu, dari tadi juga aku ga liat" cie aku. "Oke siph" saya lanjut menanyakan kepada Aef "Ef si Ibas mana?" tanya saya, "Kan lagi di remed matematika bro" jawab aef sambil tersenyum manis semanis nangka busuk, "Oh oke", ternyata saya juga dapat balasan karena menertawakan Ibas, saya pun pulang ke rumah sendirian, maklum karena saya jomblo.
:')
BalasHapus