ZomBlog

Catatan Absurd Orang Jomblo Kronis

Karena Bagus, Belum Tentu Bagus

depan kelas gue

Sudah hampir satu bulan lebih gue menempati kelas baru, kelas XI Ipa 6, seperti kelas pada umumnya, kelas gue juga memiliki nama, yaitu HOAX kependekan dari Human Of sAins siX, ya nama yang sedikit absurd karena dibuat oleh Cecep Kusmayani, dan bahasa yang bercampur aduk karena Cecep berasal dari planet Nebula. Lupakan tentang Cecep. Hoax kalo di artikan itu palsu, bohong, atau omong kosong, ya, itulah kelas gue, filosofi yang keren. Kelas itu omong kosong semata, karena gue dan kawan kawan setiap hari belajar di lab, dan seharusnya nama kelasnya bukan kelas XI Ipa 6, tapi lab XI Ipa 6, itu baru bener.

Ruangan yang gue pakai belajar, bermain, dan ngebully temen sendiri ini, yaa.. kondisinya bisa dibilang udah "koma" -- daripada kelas yang lain, yang kalo ketiup angin tornado bisa luluh lantah, walaupun kelas yang lain juga bakal hancur. Temen-temen gue pada protes karena mendapatkan kelas yang bukan impian. Langit-langit kelas ini sudah pada bolong, entah digorogotin tikus, entah di pake cemilan sama si Irvan, atau bisa jadi Irvan ngemil tikus yang ngegerogoti langit-langit. Setiap melewati jam 11, kelas pasti sering kemasukan sebuah hawa panas,  ada yang bilang itu angin jatuh, ada juga yang bilang itu bidadari jatuh, dari surga, dihadapan para komet. Eaaa. Tapi, menurut gue, hawa panas itu berasal dari kesedihan para jomblo-jomblo akut yang cintanya gak kesampaian. 

Namun, dibalik itu semua, ada hal yang menurut Wali kelas gue, yaitu Mr. Ujat (lagi) harus disyukuri, yaitu papan tulis cuma ada 1. Karena, waktu kelas gue di ngungsi ke kelas lain, papan tulisnya ada 2, yang satu di kiri, yang satu di karang anyar. Ehh maksudnya di kanan. Saat pa Ujat nulis di papan tulis kiri, barisan kanan yang mayoritas diisi kaum adam, protes dengan alasan ga kelihatan. Dan pa Ujat pindah ke kanan. Terus barisan kiri yang mayoritas diisi oleh kaum pelangi, ehh kaum hawa, protes dengan alasan serab. Setelah berdebat yang hampir memecah belah kelas, selama 8 tahun. Kelamaan. 80 detik, akhirnya Widia mempunyai saran "Pa nulisnya 2 kali aja, pertama di kiri terus nanti di kanan," kemudian dijawab oleh pa Ujat "Mending tong lahir sakalian kuring mah," dan pa Ujat meneruskan perkataannya. "Kalian harus bersyukur kelasnya di lab yang mempunyai papan tulis 1, kalian tidak akan bertengkar gara-gara posisi nulis di papan tulis, ternyata yang menurut kalian bagus, belum tentu bagus untuk diri kalian," kelas yang tadinya ribut menjadi hening seketika setelah mendengar pencerahan dari pa Ujat. Entah karena terkesan atau karena engga ngerti. "Dan lihat itu," kata pa ujat sambil menunjuk muka deren. Langit-langit ketang. "Udah hampir roboh, itu bisa membahayakan nyawa orang yang duduk dibawahnya," padahal saat itu ga ada yang duduk di bawah langit-langit yang dimaksud. "Coba di kelas kita, engga akan ada yang kayak gitu, karena udah pada roboh duluan sebelum kita masuk."  Setelah itu gue sadar, apa yang kita anggap bagus, belum tentu bagus untuk diri kita, kelas yang gue dan temen-temen impikan itu, tidak lebih baik dari kelas gue sekarang, dan belum tentu lebih nyaman dari kelas gue yang sekarang. Karena, jika kita hanya melihat permasalahan dari 1 sisi saja, kita tidak akan pernah benar-benar tau, apa kebaikan yang ada dibalik masalah tersebut. Memang benar, rencana Allah selalu lebih baik dari apa yang kita inginkan.




0 komentar:

Posting Komentar

Orang bijak berkomentar dengan baik :) silakan berkomentar, kritik, atau saran.

Diberdayakan oleh Blogger.
Karena Bagus, Belum Tentu Bagus