Orang-orang berpikir, kelas gue adalah kelas orang-orang pintar, karena ada si Ferry sama si Dhiya, yang kelas X nya dapet ranking satu. Sama karena ada to'ing juga. Padahal engga men, engga... don't judge a book by its cover, kelas gue ini sama seperti kelas yang lainnya, yang kalo ngerjain pr suka pagi-pagi, yang kalo ulangan banyak yang diremed (termasuk saya), dan kalo lagi lapar suka jajan. Menurut gue, kelas gue itu sangat kompak, apalagi dalam hal ngebully. Setiap kali mantan gue lewat, "Asrad, itu siapa diluar?" Gue pura-pura ga tau.
Gambar hanya pemanis
Dulu, ya dulu, waktu awal-awal masuk. Temen-temen gue kerjaannya baper, ada orang lagi nafas, langsung keinget mantan yang suka nafas juga, ada yang makan baso Mang Aja, langsung inget waktu itu belum bayar. Apalagi si Cecep, yang akhirnya bisa sekelas sama gebetannya. Tiap hari nyanyi lagu rossa "Ku menunggu, ku menunggu kau putus dengan kekasihmu", tapi kalo versi si irvan mah, "Ku menunggu, ku menunggu kau untuk makan baso tahu." Terus si Arin, Sarput, sama Rini dengan suara soprannya nyanyi "Inilah akhirnya harus ku akhiri, sebelum cintamu semakin dalam." Deren sama Diki dengan lagunya "Dan kau hadir merubah segalanya" bermain gitar di belakang kelas. Ada juga Dhiya yang cuma geleng-geleng kepala. Entah karena kegandengan anak-anak, entah karena lupa belum bayar baso mang aja. Karena sering baper, nama kelas (sementara) telah diputuskan, yaitu Baperly Class. Ya walaupun dengan arti seadanya, nama itu mencerminkan seluruh karakter anak XI Ipa 6.
Ada yang aneh dari baper ini. Setelah diputuskan untuk menjadi nama kelas, kekompakan kelas (dalam membully) semakin menjadi-jadi. Biasanya, korbannya adalah gue, terus gue, gue lagi, sama si Cecep yang sebangku sama gue, yang lebih parahnya, pa Ujat juga suka di bully sama anak-anak, itu gak boleh, gue juga ikutan sih. Setiap kata selalu dihubungkan dengan nama mantan gue, atau gebetan si Cecep. Setiap gue jalan orang-orang bilang "Sad, itu mantan," "Ciee yang belum move on," atau yang lebih parah "Dasar jomblo kampungan, udah jomblo, suka ngutang lagi.".
Waktu terus bergulir, bully terus mengalir, yang ngebully terus nyengir, yang dibully cuman bisa mondar-mandir. Waktu itu, gue hanya bisa pasrah saja, karena 1 melawan 20 orang, yang 12 orang lagi masih jajan di warung. Temen satu-satunya yang ngebela gue adalah... enggak ada. Enggak akan ada, karena kelas gue ini bagaikan tanaman karnivora yang namanya tidak ingin disebutkan (padahal gue ga tau namanya), menungggu mangsanya untuk masuk ke dalam perangkap, kemudian saat masuk langsung dilahap hingga tulang belulangnya, untuk mengambil sari-sari kejombloannya. Katanya, roda kehidupan itu selalu berputar, tapi kali ini kayaknya lagi macet, atau mungkin bannya kempes, dan saat berhenti, kehidupan gue berada di sisi bawah, yang ga ada habisnya untuk dimakan oleh tanaman yang tidak ingin namanya disebutkan itu.
Waktu terus bergulir, bully terus mengalir, yang ngebully terus nyengir, yang dibully cuman bisa mondar-mandir. Waktu itu, gue hanya bisa pasrah saja, karena 1 melawan 20 orang, yang 12 orang lagi masih jajan di warung. Temen satu-satunya yang ngebela gue adalah... enggak ada. Enggak akan ada, karena kelas gue ini bagaikan tanaman karnivora yang namanya tidak ingin disebutkan (padahal gue ga tau namanya), menungggu mangsanya untuk masuk ke dalam perangkap, kemudian saat masuk langsung dilahap hingga tulang belulangnya, untuk mengambil sari-sari kejombloannya. Katanya, roda kehidupan itu selalu berputar, tapi kali ini kayaknya lagi macet, atau mungkin bannya kempes, dan saat berhenti, kehidupan gue berada di sisi bawah, yang ga ada habisnya untuk dimakan oleh tanaman yang tidak ingin namanya disebutkan itu.


0 komentar:
Posting Komentar
Orang bijak berkomentar dengan baik :) silakan berkomentar, kritik, atau saran.